*** Om Swastyastu.Terima Kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah menyalurkan Dana Punianya Ke Rekening BRI No. 0811-01-028983-53-0 an. Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram! Semoga Pendidikan Hindu semakin maju!***

Páginas

Senin, 26 Januari 2015

Renungan : Empat surat dari Dewa Yama

Seorang pria bernama Amrita, ada  satu hal yang paling ia takuti adalah kematian. Lalu untuk menghindari kematian, Amrita melakukan meditasi dan mengkonsentrasi pikirannya kepada Dewa Yama, Dewa kematian. 

Dewa Yama sangat senang dan muncul dihadapan Amrita. 

Dewa Yama berkata: "kehadiranku hanya untuk mereka yang akan mati atau sudah mati. Namun aku hadir dan memberikan berkat kepadamu walau engkau masih hidup karena tapa yang engkau lakukan ".

Amrita berkata: "Wahai Dewa, bolehkan aku meminta padamu? Jika kematian itu tak terelakkan, aku meminta jika aku mati, setidaknya Dewa dapat mengirimiku sebuah surat sebelum kematian itu datang sehingga aku dapat meninggalkan apa saja yang dibutuhkan oleh keluargaku sebelum keberangkatan dan juga mempersiapkan diri untuk kehidupanku berikutnya dengan melakukan sadhana dan memuja Krishna "

Dewa Yama berkata,"Tentu saja, akan aku kabulkan permintaanmu. Tapi segera setelah engkau mendapatkan pesan, silakan engkau bersiap-siap ", dan lalu Dewa Yama menghilang. 

Tahun demi tahun berlalu. Rambut Amrita secara bertahap mulai berubah putih, tapi dalam kehidupannya dia sering melakukan perbuatan yang berdosa dengan tidak berpikir tentang rasa takut akan kematian. Dia merasa senang bahwa sejauh ini tidak ada Surat tiba dari Dewa Yama.

Beberapa tahun berlalu. Amrita sudah kehilangan sebagian gigi dan para orang suci telah memperingatkan dia tentang kematiannya yang makin dekat. Namun ia tidak terganggu karena tidak ada Surat dari Dewa Yama. 

Tahun-tahun berlalu, penglihatan Amrita menjadi kabur. Namun ia terus melakukan perbuatan dan mengubar keinginan duniawinya. Ia masih berfikir bahwa surat belum datang. 

Beberapa tahun berlalu. Amrita sekarang menjadi seorang laki-laki yang sangat tua dan punggung membungkuk ke depan, dia tidak dapat berjalan tanpa tongkat. Kulitnya keriput. Suatu hari ia menderita stroke dan menjadi lumpuh. Orang mengatakan kondisinya sangat kritis. Tapi Amrita masih bahagia, karena ia tidak menerima surat apapun dari Dewa Yama. 

Akhirnya datanglah waktunya Amrita sudah tidak dapat berbuat apa lagi, dia hanya bisa terbaring ditempat tidurdan Dewa Yama, dewa kematian datang dihadapannya. 

Amrita terheran-heran dan pikirannya penuhi dengan rasa takut. 

Dewa Yama berkata, "temanku, Aku datang sekarang, Engkau sudah sangat menderita. 
Hari ini aku datang untuk mengajakmu pergi bersamaku." 

Amrita gemetar ketakutan dan berkata, "temanku, Anda telah mengkhianatiku dengan melanggar janjimu. Anda tidak mengirimiku surat seperti yang Anda janjikan. Sekarang tiba Anda mengambilku dari dunia ini. Anda telah membohongiku". 

Dewa Yama berkata, "Amrita! engkau menghabiskan sepanjang hidupmu dengan keinginan duniawi dan an tidak tertarik pada kehidupan rohani. Bagaimana engkau bisa tahu Surat-surat yang saya kirimkan padamu? Tidak satu, tapi empat surat yang aku kirimkan kepadamu, Tetapi engkau mengabaikan mereka semua." 

Amrita adalah sangat bingung: "empat surat apa yang Anda kirimkan? Tapi bahkan tidak satu surat pun yang aku terima. Apa mungkin tukang pos lupa untuk menyampaikan hal itu. ".

Dewa Yama berkata, "temanku, Apakah engkau pikir aku akan mengambil kertas dan pena dan menulis surat kepadamu? Tidak, dengan tubuhmu sebagai kertas dan perubahan tubuhmu sebagai pena, aku menulis surat kepadamu dan waktu adalah Tukang Pos yang mengantar surat-surat itu. 

1) tahun pertama, rambutmu berubah putih. Itu adalah surat pertamaku. Engkau mengabaikan hal itu. 

2) gigimu mulai berkurang adalah surat keduaku. 

3) Surat ketiga ketika pandanganmu mulai kabur.

4) pesan keempat adalah ketika tubuhmu menjadi lumpuh. 

Engkau nyaman dan mengabaikan semua surat-surat itu. Sekarang aku datang bukan sebagai teman tetapi sebagai  penegak hukum Tuhan, dan Dewa Yama lalu membawa Amrita. 

Tetangga Amrita lalu berteriak, "Amrita sudah meninggal.....!!!!!!". 


Moral dari cerita: Wahai Saudara Umat Sedharma, manfaatkan waktu dengan melakukan perbuatan yang berdasarkan Dharma.

Dalam karyanya yang terkenal "Bhaja Govindam" ada sloka sebagai berikut. 

Bhagavad gita kinchit adeeta
ganga jala lava kanika peetaa sakrdapyena muraari samarca 
kriyate tasya yamena sasarcaa 

"jika seseorang membaca sedikit dari Bhagavad Gita, mengambil setetes air Gangga dan melakukan ibadah kepada Murari (Sri Kresna) minimal sekali dalam hidupnya, maka ia tidak harus menghadapi pertanyaan dari Dewa Yama."

Senin, 19 Januari 2015

Mahashivaratri : Legenda Lingga Dewa Shiva


Legenda Siwa Lingga atau Lingodbhavamurthy sangat terkait dengan Mahashivaratri. Legenda ini menceritakan kisah pencarian oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu untuk menemukan Anadi (awal) dan Ananta (akhir) dari Dewa Siwa. Legenda ini membuktikan kemahakuasaan Dewa Mahadewa lebih dari Dewa Hindu lainnya dan menjelaskan mengapa lingam diyakini menjadi salah satu lambang yang paling ampuh untuk mencapai tujuan dalam Hindu. Kisah ini tercantum dalam tiga purana - Kurma Purana, Vayu Purana dan Siwa purana. 


Menurut Purana, setelah dua dari Dewa Tri Murti, Brahma dan Wisnu yang sedang menunjukkan kemampuan masing-masing . Takut akan terjadi pertempuran, para dewa lainnya meminta Shiva untuk menjadi penengah. Dewa Siwa muncul dengan bentuk Lingga yang menyala di antara Brahma dan Wisnu dan lalu kemudian menantang keduanya dengan meminta mereka untuk mengukur panjang dari Lingga. 

Bunga Ketaki
Terpesona oleh besarnya, Brahma dan Wisnu memutuskan untuk mencari ujung Lingga itu. Dewa Brahma berubah bentuk menjadi angsa dan pergi ke atas, sementara Dewa Wisnu mengambil bentuk Varaha - babi hutan dan masuk ke tanah menuju ujung bumi. Keduanya mencari ribuan mil tetapi tidak bisa menemukan ujung akhirnya. Pada perjalanannya ke atas, Brahma menemukan bunga Ketaki. Lelah dan bingung dengan pencariannya untuk menemukan ujung teratas dari lingga yang berapi-api, Brahma lalu sepakat dengan bunga Ketaki untuk berbohong bahwa ia telah menemukan ujung teratas dan bunga itu berada. Dewa Brahma lalu turun dan bertemu dengan Dewa Wisnu dan menegaskan bahwa ia telah menemukan ujung Lingga itu. 

Namun tiba-tiba, bagian tengah Lingga terbelah dan Siwa muncul dengan penuh keagungan. Kagum, baik Dewa Brahma dan Wisnu membungkuk di hadapannya dan mengagungi kemahakuasaan Dewa Siwa. Dewa Siwa juga menjelaskan kepada Brahma dan Wisnu bahwa keduanya lahir dari dia dan kemudian dipisahkan menjadi tiga aspek kemahakuasaan Tuhan. Dewa Brahma sebagai Pencipta, Dewa Wisnu Pemelihara dan Dewa Shiva sebagai Pelebur (Pemralina).  Namun, Dewa Siwa marah dengan Brahma untuk karena telah berbohong. Kemudian Dewa Brahma dikutuk  tidak seorang pun yang akan berdoa kepada-Nya. (Legenda ini menjelaskan mengapa hampir sedikit Pemuja Brahma dan sekali Candi Brahma ditemui di India dan Negara lain.) 

Dewa Siwa juga menghukum bunga Ketaki karena ikut berbohong dan melarang dia digunakan sebagai persembahan ibadah apapun. Karena itu pada hari ke-14 (Bulan Gelap) bulan Phalguna, Dewa Shiva mengubah bentuk menjadi Lingga, hari ini sangat baik dan diperingati sebagai Mahashivaratri - malam Siwa. 

Untuk merayakan hari suci itu, umat Hindu berpuasa sepanjang hari dan berdoa kepada Tuhan sepanjang malam. Dikatakan bahwa menyembah Dewa Siwa di Shivaratri akan mendapatkan anugerah kebahagiaan dan kesejahteraan.

Terjemahan dari Cerita di http://www.mahashivratri.org/