*** Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1936 ***

Páginas

Senin, 07 April 2014

Pemahaman Bhagawadgita Sloka 9.26

Sebenarnya Tuhan tidak membutuhkan bentuk material untuk memujanya, segala bentuk material itu hanyalah symbol tindakan abstrak agar lebih terlihat nyata. Tuhan menuangkan pernyataan dalam sloka 9.26 karena sudah mengetahui manusia dizaman yang akan datang tidak bisa melakukan pengabdian kepadanya tanpa dilandasi dengan tindakan yang abstrak.

Untuk mencapai tempat tinggal permanen atau kebahagian yang abadi Tuhan memudahkan umatnya tanpa memandang kasta atau derajat seseorang baik yang kaya atau miskin sekalipun melakukan persembahan tanpa adanya perbedaan, semuanya diperlakukan secara adil. Proses persembahannya sangatlah mudah seperti sedikit air, sehelai daun, buah atau biji dengan tulus iklas Tuhan akan senang menerimanya. Perbedaan yang muncul hanya dari pemuja itu sendiri antara kemurnian jiwa yang tulus iklas dalam mempersembahkan kepada Tuhan. Itulah cara paling mudah, universal dan metode paling sederhana yang diberikan Tuhan kepada umatnya. Tuhan hanya menyukai pelayanan bhakti dengan slalu mengingat namanya, tidak lebih dari itu. Dengan pengabdian maka umatnya akan mencapai keabadian yang sesungguhnya, karena Tuhan adalah kepribadian yang tak terhingga dan maha sempurna. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca sloka dibawah ini:

Bhagawadgita sloka 9.26
aśnāmi prayatātmanaḥ
Kosa kata:
patram  (sehelai daun), puṣpam (setangkai bunga), phalam (buah-buahan), toyam (air); yo (siapa), me (kepada), bhaktyā  (pengabdian), prayacchati (menawarkan); tad (itu), aham (Ku-Tuhan), bhakti (bhakti), upahṛtam (ditawarkan dalam pengabdian); aśnāmi (menerima), prayatatmanah (kesadaran yang murni).

Artinya:
Apa yang dipersembahkan kepadaku, sehelai daun, setangkai bunga, setetes air, buah atau biji-bijian dengan cinta bhakti dan kesadaran yang murni, akan  Ku terima.

Kata-kata yo me bhaktya prayacchati berarti menawarkan kepadanya dengan mencintai pengabdian.  Bahkan jika umatnya menawarkan dengan pikiran yang bersih dan hati yang murni meskipun tanpa melakukan usaha yang tidak terlalu berat seperti mempersembahkan  air, sehelai daun atau buah yang dijiwai dengan pengabdian maka akan dianggap sakral oleh Tuhan yang maha tinggi sehingga ia akan menjadi senang dan merasa berhutang budi pada pemuja tersebut. Tindakan apapun yang dilakukan dengan bhakti atau pengabdian kepadanya , ia menerimanya dengan cinta bhakti.

Kata bhakti disebutkan dua kali dalam sloka ini yang mempertegas bahwa satu-satunya cara yang mudah dilaksanakan oleh umat untuk melakukan pendekatan kepadanya adalah melalui pelayanan bhakti. Meskipun ada cara lain seperti menjadi brahmana, sarjana, orang kaya dan filsuf besar, tanpa adanya prinsip bhakti kepadanya semuanya itu hanya akan sia-sia belaka, karena bhakti bersifat kekal, semua kepercayaan apapun pasti melakukan bhakti untuk memuja Tuhan mereka.

Dalam sloka ini juga sangat dijelaskan Tuhan menginginkan persembahan dalam bentuk vegetarian, jadi apa yang tidak diinginkan tidak disebutkan dalam sloka ini seperti persembahan daging, ikan dan telur. Tuhan hanya ingin pelayanan bhakti berupa persembahan seperti sehelai daun, setangkai bunga, setetes air, buah atau biji-bijian yang depersembahkan dengan tulus iklas maka ia akan menerimanya. Artinya Tuhan meminta agar umatnya memakan makanan seperti apa yang dipersembahkan kepadanya (vegetarian) sehingga manusia memiliki pikiran yang jernih dan jiwa yang bersih serta terbebas dari siklus reinkarnasi yang tiada ahir dan mencapai kebebasan atau kebahagian yang kekal.

Pada Bhagawadgita sloka 3.13 Tuhan menjelaskan “Para penyembah Ku dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indria-indria pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja”. Magna sloka ini mirip dengan sloka diatas, dimana Tuhan mengampuni dosa umatnya dengan hanya memakan sisa-sisa hasil persembahan yang ditujukan dengan tulus iklas kepadanya. Tetapi umat yang makan tanpa melakukan persembahan justru akan mendapatkan dosa, karena tidak bersyukur atas segala apa yang ia makan semuanya adalah pempberian darinya. Tuhan tidak membutuhkan makanan, karena segalanya telah ia miliki, ia hanya menerima persembahan karena cinta bhakti umatnya terhadap dirinya bukan karena makanan tersebut.

Aktualisasi Bhagawadgita sloka 9.26
Penerapan sloka ini dalam keyakinan umat Hindu  dapat dilihat ketika melakukan persembahyangan dipura, yaitu bersembahyang dengan tulus dan iklas merupakan bhaktya, sedangkan pemakaian bunga sebagai sarana pelengkap persembahyangan merupakan wujud persembahan atas rasa syukur. Setiap masing-masing bunga memiliki mantra yang berbeda-bedat. Bunga, disamping dipergunakan sebagai sarana persembahyangan juga memiliki arti sebagai lambang persembahyangan yang tulus ikhlas dan suci serta melambangkan sifat maha cinta kasih dari Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, bunga itu sendiri adalah lambang-lambang dari keagamaan. Ketika bunga dirangkai menjadi sebuah sesajen Canang hendaknya warna bunga itu sendiri disesuaikan dengan dimana hendaknya warna yang bersangkutan arahnya berada. Misalnya, Pancawarna itu sendiri. Bunga dengan Warna merah di selatan, Warna gelap (hitam/ ungu) di utara, warna putih di timur, warna kuning di barat dan di tengah adalah kombinasinya. Letak warna bunga tersebut juga menandakan Dewa dengan warna apa yang berstana di arah itu.

Banyak bukti-bukti lontar, kekawin ataupun kitab yang menyebutkan arti penting dari bunga itu sendiri. Adapun bukti-bukti, tersebut antara lain: Pertama, sebagai arti atau lambang restu Tuhan. Hal tersebut terdapat dalam kekawin Ramayana, ketika Sang Rama sebagai Awatara Wisnu, berperang melawan Rahwana, dan Rama mandapat restu dari Dewa-dewa, yaitu dengan menghujani bunga wangi pada Rama. Hal serupa juga terjadi pada Arjuna ketika bertapa untuk mendapatkan panah Pasopati untuk mengalahkan Korawa. Arjuna mendapat restu dari Dewa Siwa dengan cara menghujani Arjuna dengan bunga, yang dikenal dengan istilah Puspa warsa yang disebutkan dalam kekawin Arjuna Wiwaha.

Kedua bunga adalah lambang dari jiwa (roh) dan alam pikiran. Misalnya, dalam upacara kematian umat Hindu di Bali, dalam perjalan mngusung mayat ke kuburan (setra), di taburkan “sekar ura” (campuran bunga uang kepeng dan beras berwarna kuning) sebagai lambang ungkapan perasaan ketulus ikhlasan hati untuk berpisah dan melepaskan orang yang telah meninggal untuk kembali ke akhirat. Begitu pula, ketika keluarga korban yang meninggal melakukan persembahyangan kepada korban menggunakan bunga pada ujung kedua cakupan tangannya melambangkan ketulus iklasan keluarga untuk melepas kepergian korban dan mendoakan korban agar atma si korban dapat kembali pada Tuhan.

Aktualisasi setetes air pada sloka Bhagavadgita 9.26 dapat dilihat ketika menggunakan tirtha sebagai salah satu sarana persembahyangan. Tirtha pada dasarnya adalah air yang telah melalui proses pembersihan dan penyucian secara ritual sehingga bersifat sakral dan diyakini dapat menumbuhkan perasaan dan atau pikiran yang suci. Untuk mendapatkan tirtha ada dua macam cara yaitu: Pertama, dengan cara naur (memohon) yang dapat dilakukan oleh pinandita (pemangku, dalang, balian termasuk sang yajamana (umat yang sedang menyelenggarakan upacara yajna). Penggunaan air yang kemudian diproses ritual menjadi tirtha, bukanlah sekedar pemanfaatan benda cair itu secara fisikal. Lebih jauh dari itu adalah nuansa sakral dari air suci itu dalam menumbuhkan jiwa spiritual umat agar dirinya terbebas dari segala kekotoran baik yang disebabkan oleh unsur material (badan kotor) maupun unsur immaterial (rohani kotor). Itu sebabnya, meski nampak sepele percikan air suci yang disebut tirtha itu merupakan lambang kehidupan yang di dalam lontar Paniti Agama Tirtha disebut “tirtha ngaran amrta”: tirtha adalah hidup. Artinya, tirtha itulah penyebab umat dan agama Hindu itu tetap eksis. Tanpa tirtha umat dan agama Hindu akan kering lalu mati. Sebaliknya dengan tirtha, dahaga lahir dan batin akan terpuaskan dalam kehidupannya.

Sumber : http://ney24.wordpress.com/

Selasa, 25 Maret 2014

Raksasa Bhasmasura Menjadi Abu (Bhasma)

Bhasmasur Menjadi bhasma (Ashes)Bhasmasura adalah raksasa sangat kuat dan berkuasa. Untuk menyenangkan Dewa Siva, Bhasmasur melakukan pertapaan yang sangat berat selama bertahun-tahun. Dia akan mengucapkan, "Om Namah Shivaya." Dewa Siva senang dengan pertapaannya dan menyuruh untuk meminta anugerah. Pada saat itu Bhasmasura bertanya, "Siapa yang pernah meletakkan tangan kanannya diatas kepalaku maka akan terbakar menjadi abu." Kata Shankar Bhagwan, "Tathastu" dan memberikan anugerah kepadanya.

Bhasmasura mulai berkeliaran di sekitar alam semesta dan menggunakan kekuasaannya. Bhasmasura menakut-nakuti orang dan berkata, "Lihatlah kekuatan yang aku miliki! akan aku bakar semua sampai mati! "Orang-orang akan berteriak minta tolong," Selamatkan aku! Selamatkan aku! "Tapi, siapa pun yang menyentuhnya akan dibakar menjadi abu.

Setelah Bhasmasura menjadi begitu ganas, ia memutuskan untuk menantang Dewa Siva. Bhasmasura berkata kepada Dewa Siva, "Aku akan menggunakan kekuatan yang Anda berikan. Ha Ha Ha!. 

" Saya keliru memberi kekuatan itu kepadamu "Kata Dewa Siwa.

Dewa Vishnu  melihat bahwa Dewa Siva dalam kesulitan. Oleh karena itu, ia datang menyelamatkannya. Ia mengambil bentuk sebagai wanita cantik, Mohini, dan berdiri di tengah jalan. Bhasmasura melihatnya dan terpesona oleh kecantikan Dewi Mohini. Dia berkata, "Wow! ada seorang wanita cantik. Hey! Anda harus menikah denganku. "lalu Mohini berkata," Aku akan menikah denganmu, tetapi hanya dengan satu syarat. "

Mohini berkata, "Kamu harus menari mengikuti cara ku menari." Sambil berdansa Bhasmasura tanpa sadar ia meletakkan tangan kanannya sendiri di kepalanya sendiri. Dia mulai berteriak, "O... tidak! O......Panas! O....Aku mulai terbakar! "Dalam hitungan detik, Bhasmasura terbakar menjadi tumpukan bhasma (abu).

Moral: Orang-orang yang menentang Tuhan karena ego mereka berakhir di situasi yang sama seperti Bhasmasura. Oleh karena itu, jangan pernah menjadi egois, terutama di depan Tuhan.