*** Om Swastyastu.Terima Kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah menyalurkan Dana Punianya Ke Rekening BRI No. 0811-01-028983-53-0 an. Pasraman Ganesha Brahmachari Ashram! Semoga Pendidikan Hindu semakin maju!***

Páginas

Rabu, 27 Agustus 2014

Persahabatan Krishna dan Sudama

Krishana Sudama Persahabatan Krishna & Sudama  sudah diketahui semua. Sudama adalah seorang Brahmana miskin. Dia bahkan tidak punya cukup uang untuk memberi makan anak-anaknya. Suatu saat dengan mata penuh air mata, istrinya berkata kepadanya, "Tidak masalah jika kita lapar tapi kita setidaknya harus mampu memberi makan untuk anak-anak."
 
Mendengar hal itu, Sudama merasa sangat sedih dan berkata, "Apa yang bisa dilakukan? Kita tidak bisa meminta bantuan dari siapa pun."
Istri Sudama menjawab, "Anda sering berbicara tentang Krishna. Anda telah mengatakan bahwa Anda memiliki ikatan  persahabatan yang mendalam dengan dia. Dia adalah Raja Dwarka, jadi mengapa Anda tidak pergi kepadanya? Tidak perlu meminta apa-apa di sana. "
 
Sudama menemukan kebijaksanaan dalam kata-kata istrinya. Dia memutuskan untuk pergi ke Dwarka & berkata, "Aku pasti akan pergi kepada Krishna tapi apa yang harus aku bawa untuk anak-anaknya?"
Istri Sudama meminjam beberapa makanan ringan dan beras dari tetangga mereka. Dia menaruh makanan dalam sepotong kain robek & Sudama mengambil bungkusan itu lalu berangkat ke Dwarka.
 
Sesampainya di Dwaraka dia sangat kagum. Seluruh kota dibangun dengan emas & rakyatnya sangat kaya. Dia meminta petunjuk untuk menuju istana Krishna & akhirnya sampai di sana. Ketika melihat Sudama yang tampak seperti seorang pertapa, para penjaga istana bertanya, "Mengapa kau datang ke sini?"
Sudama menjawab, "Saya ingin bertemu Krishna, Dia adalah teman ku. Pergi & katakan padanya bahwa Sudama telah datang untuk bertemu dengannya."
 
Penjaga itu tertawa saat melihat pakaian Sudama. Namun, ia dengan ragu-ragu pergi & menyampaikan kepada Krishna tentang kedatangan Sudama. Mendengar nama Sudama ini, Krishna segera berdiri & berlari menyambutnya. Semua orang memandang dengan heran saat melihat seorang Raja besar berlari bertelanjang kaki untuk bertemu teman yang berpenampilan buruk dan kusut.
 

Krishna mengajak Sudama ke istana. Mereka ingat masa kanak-kanak mereka di sekolah Sandipani. Melihat kekayaan Krishna, Sudama merasa malu dengan makanan ringan dan beras yang ia bawa & mencoba untuk menyembunyikan bungkusan itu tapi Krishna menyambarnya dari dia. Sambil menikmati camilan, Krishna berkata, "aku tidak pernah merasakan makanan manisnya dan lezat seperti ini."
 
Kemudian, mereka duduk sambil menyantap makan yang disajikan di piring emas. Sudama merasa sedih karena ia teringat dengan anak-anaknya yang kelaparan di rumah. Dia tinggal di istana selama dua hari tapi ia tidak bisa menikmati apa yang disajikan oleh Khrisna. Pada hari ketiga, ia bersiap-siap untuk kembali pulang. Krishna memeluk Sudama & mengantarnya saat ia mengucapkan selamat berpisah.
Dalam perjalanan kembali, Sudama bertanya-tanya, "Apa yang harus saya katakan ketika istriku bertanya apa yang aku bawa?"
 
Ketika Sudama dekat rumahnya, ia tidak menemukan gubuknya! Sebaliknya, istrinya keluar dari istana megah & mengenakan pakaian elegan. Lalu dia berkata kepada Sudama, "Lihatlah kekuatan Krishna, kami telah menyingkirkan kemiskinan kita.  Krishna telah menghilangkan semua penderitaan kita.." Sudama teringat dengan cinta kasih Krishna yang murni & matanya dipenuhi air mata sukacita.
 
Moral: Jadi teman-teman, apakah Anda melihat bagaimana kemurnian persahabatan Krishna & Sudama? Cinta sejati tidak membedakan antara status tinggi & rendah atau antara kekayaan & kemiskinan. Oleh karena itu hari ini, bahkan setelah ribuan tahun, persahabatan Krishna & Sudama dikenang di seluruh dunia sebagai simbol cinta sejati. ( Paryanto, S.Ag)

Terjemahan dari cerita : Krishna dan Sudama 

Kisah Chandraraudra : Ketulusan dalam melayani

Chandraraudra Jaman dahulu, ada muni acharya bernama Chandraraudra. Dia memiliki seorang murid yang sangat hormat & patuh. Pada malam hari, saat bepergian menuju tujuan, hari semakin gelap. Karena sang guru kecapaian maka sang murid lalu mengangkat guru dipundaknya. Namun hal tersebut membuat sang murid tidak mudah untuk berjalan, banyak gundukan dan lubang.
 
Karena Tidak dapat melihat langkah dalam kegelapan, murid sering tersandung batu dan gundukan di jalan. Hal ini akan membuat  muni bergoyang-goyang di pundaknya. Sang Muni mulai tidak sabar & berteriak kepada muridnya. Kedua kaki murid mulai terluka dan mengalir darah. Saat itu, kakinya terjebak dalam sebuah lubang yang dalam & muni kehilangan kesabarannya. Dia memarahi muridnya.
 

Hal ini membuat murid dalam keadaan yang sangat sulit & sedih. Dia berpikir, "Sungguh malang nasibku karena aku tidak dapat melayani guruku dengan baik". Beliau harus menanggung banyak penderitaan & masalah karena aku!". Pikiran sang murid semakin hanyut dalam perenungan. Akhirnya dia mendapatkan 'Kevalgnan'. Apakah Anda tahu apa 'Kevalgnan'? Mereka yang telah mencapai 'Kevalgnan' bisa membayangkan & memiliki pengetahuan tentang seluruh alam semesta.
 
Meskipun dalam keadaan gelap, ia sekarang bisa melihat jalan dengan jelas. Dia berjalan tanpa kesukaran sedikitpun dan tidak membuat sang guru menjadi tidak nyaman. Guru Muni menjadi bingung melihat ini. Dia bertanya kepada muridnya, "Sebelumnya kamu tidak dapat berjalan dengan baik tapi tiba-tiba sekarang kamu bisa  berjalan dengan stabil & mudah. ​​Apa yang terjadi? Bagaimana kamu dapat menemukan jalan di kegelapan seperti ini?"  

Murid itu menjawab, "Gurudev, itu semua hasil dari kasih dan karunia mu". Muni kemudian berpikir, "tampaknya Dia telah belajar pelajarannya setelah ku marahi & itulah sebabnya dia berjalan dengan baik sekarang". Sang Murid dengan sopan berkata, "Gurudev, karena kasih karuniamu , saya telah mencapai 'Kevalgnan'. Dengan 'Kevalgnan', saya bisa melihat segalanya dengan jelas".
 
Mendengar hal ini, muni segera melompat turun dari bahu muridnya. Dia membungkuk kepada muridnya yang sekarang menjadi 'Kevalgnani' & meminta maaf atas perilaku buruknya. Akhirnya sang guru mulai merenungkan diri dan mengendalikan pikirannya, sehingga dia menjadi tenang dan sifat marahnya hilang.

Diterjemahkan dari cerita : The story of Chandraraudra